Faktor Resiko Merokok Terhadap Subtipe Histologis Kanker Ovarium : Analisa Terhadap 300.000 wanita di Norwegia
Pendahuluan
Berdasarkan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker, merokok merupakan factor resiko untuk kanker ovarium musinosum. Serous, musinosum, endometrioid dan clear cell merupakan subtipe histologis dari kanker ovarium yang paling umum. Hubungan antara Merokok dan endometriod dan clear cell kanker ovarium masih kontroversiol karena hasilnya tidak konsisten. Analisis yang didapatkan baru-baru ini menemukan peningkatan resiko sebesar 79% terhadap kasus kanker ovarium mukosa pada perokok. Pada kanker ovarium clear cell dan endometriod terdapat sedikit peningkatan resiko, sedangkan tidak ada hubungan pada kanker ovarium serosa.
Namun, Analisa gabungan tersebut tidak mempelajari hubungan kanker ovarium dengan jumlah rokok yang dihisap per hari, durasi merokok, usia inisiasi merokok, dan subtipe histologis kanker ovarium.
Oleh karena itu, diperlukan studi prospektif besar pada hubungan antara merokok dengan kanker ovarium. Pada kohort lebih dari 300.000 wanita Norwegia peneliti bertujuan untuk menyelidiki peran merokok termasuk ukuran dari paparan merokok dalam resiko subtipe histologis kanker ovarium.
MATERIAL DAN METODE
Studi Populasi
Populasi yang digunakan dalam kohort sebanyak 330.342 wanita Norwegia.
Pengumpulan Data
Status merokok didefinisikan seperti tidak pernah, mantan, saat ini atau pernah merokok. Informasi berkaitan dengan merokok yang dikumpulkan berupa kebiasaan merokok saat ini dan sebelumnya, durasi merokok, usia inisiasi merokok dan jumlah rata-rata rokok yang dihisap per hari. Selain itu informasi yang dikumpulkan berupa jumlah usia anak, usia saat melahirkan pertama, status menopause,dan waktu luang aktivitas fisik. Aktivitas fisik dikategorikan menjadi 3 yaitu rendah, sedang, dan berat.
Klasifikasi empat subtipe histologis kanker ovarium mengacu pada klasifikasi histologis internasional dari Tumor World Helath Organization. Tetapi pada cohort tersebut tidak menampilkan hasil clear cell karena kasusnya sedikit.
Analisa statistik
Pada cohort tersebut digunakan model Cox proportional hazards untuk analisa statistik. Semua analisis disajikan dalam STATA versi 14.0 (StataCorp, College Station, TX, USA) dan dalam versi SAS 9.4 (SAS Institute Inc., Cary, NC, USA).
Hasil
Usia rata-rata pada cohort adalah 41 tahun. 5.9 juta orang dianalisa selama 19 tahun dan mendapatkan 2336 kasus kanker ovarium. Terdapat 1242 (53%) kasus kanker ovarium serous, 440 (19%) kasus kanker musinosum, 190 (8%) kasus kanker endometrioid dan 82 (4%) kanker ovarium sel bersih. Penderita didiagnosis secara invasif sebanyak 1647 (71%) dan 689 (29%) dengan tumour marker. Status merokok penderita adalah sebanyak 38% perokok saat ini, 21% mantan perokok, dan 41% tidak pernah merokok saat pendaftaran. Tabel satu menjelaskan bahwa penderita yang masih merokok saat ini memiliki usia yang lebih muda saat melahirkan pertama, memiliki aktivitas fisik yang lebih rendah dan mendapatkan Pendidikan yang lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok. Selain itu wanita dengan kanker ovarium mukosa memiliki usia yang lebih tua saat melahirkan pertama, memiliki aktivitas fisik yang rendah dan memiliki berat badan yang lebih ketika dibandingkan dengan wanita yang memilki kanker ovarium serosa.
Perokok aktif memiliki resiko lebih tinggi untuk semua kanker ovarium yang didiagnosis dengan pemeriksaan tumour marker. Tidak ada peningkatan resiko pada kanker ovarium mukosa untuk mantan perokok, sedangakan perokok saat ini memilki resiko 2 kali lipat lebih tinggi bila dibandingkan dengan pernah merokok. Ditemukan bahwa merokok dapat menyebabkan peningkatan resiko kanker ovarium musinosum sebanyak 2%. Namun peneliti tidak mengamati durasi merokok dengan peningkatan resiko pada kanker ovarium serosa. Resiko untuk semua kanker ovarium subtipe histologis sama pada mantan dan tidak [ernah merokok. Pada tabel 4 peneliti menjelaskan hubungan usia inisiasi merokok, durasi, dan rokok yang dihisap per hari. Ditemukan bahwa wanita yang merokok lebih dari 10 tahun, merokok lebih dari 10 batang rokok perhari dan sudah merokok sejak usia 18 tahun atau lebih memiliki sedikit dampak pada resiko kanker ovariu mukosa ketika dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok.
Namun, peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara status merokok dengan jumlah anak, aktivitas fisik, pendidikan, dan indeks masa tubuh pada semua jenis kanker ovarium subtipe histologis.
PEMBAHASAN
Pada penelitian kohort hanya dibahas hubungan merokok dengan kanker ovarium musinous tidak dengan kanker dengan subtipe yang lain. Peneliti menemukan terdapat hubungan antara dosis, durasi, pak pertahun, dan jumlah roko yang dihisap per hari dengan kanker ovarium musinosum. Setiap tahun terdapat peningkatan sebesar 2% pertahun setiap peningkatan satu batang rokok yang dikonsumsi perhari. Sedangkan peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara meroko dengan resiko kanker serviks serosa yang didiagnosis menggunakan tumour marker.
Dalam penelitian, indeks massa tubuh dan pendidikan tidak memberikan efek terhadap hubungan antara merokok dengan semua subtipe histologis kanker ovarium.
Mekanisme terjadinya kanker ovarium musinosum adalah mutasi somatic pada gen KRAS dan rokok dapat menginduksi terjadi mutase tersebut. Selain itu, rokok dapat menyebabkan peningkatan absorbsi benzo(a)pyrene yang merupakan karsinogen lokal pada sel folikel ovarium. Absorbsi ini menyebabkan peningkatan perusakan DNA.
Kekuatan dan Keterbatasan
Kekuatan dari penelitian ini adalah banyak jumlah wanita yang mewakili semua kabupaten di Norwegia. Tindak lanjut jangka panjang yang hamper lengkap, dan jumlah kasus yang banyak dari semua subtipe histologis kanker ovarium.
Keterbatasan pada penelitian ini adalah kurang lengkapnya data seperti usia saat menopause, usia saat menarchea, penggunaan kontrasepsi oral dan terapi hormon terhadap faktor resiko kanker ovarium seperti yang telah ditetapkan sebelumnya. Selain itu keterbatasan dari penelitian ini adalah kemungkinan kesalahan klasifikasi subtipe histologis kanker ovarium karena peneliti hanya menggunakan informasi patologi yang dicatat oleh ahli patologi lokal.
Kesimpulan
Pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hubungan antara durasi merokok, pak per tahun, dan jumlan rokok yang dihisap per hari dengan peningkatan faktor resiko kanker ovarium musinosum yang didiagnosis menggunakan tumor marker dan invasif.








