MEDULLA SPINALIS SEBAGAI PUSAT
GERAK REFLEKS
DISUSUN OLEH:
LILIA
NUR RAHMAWATI SUPRAPTO
16711066
KELOMPOK TUTORIAL 13
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
NOVEMBER 2016
MEDULLA SPINALIS
SEBAGAI PUSAT GERAK REFLEKS
LILIA NUR RAHMAWATI
SUPRAPTO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM
INDONESIA
Pendahuluan
Sistem
saraf merupakan jalinan saraf yang kompleks, khusus, dan saling berhubungan
satu sama lain. Sistem saraf mengontrol interaksi individu dengan lingkungannya.
Sistem saraf memungkinkan manusia dapat tanggap dengan cepat terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Terdapat tiga
komponen penting yang dimiliki sistem saraf yaitu reseptor, penghantar impuls,
dan efektor (Feriyawati, 2005).
Sistem saraf
berdasarkan letaknya digolongkan menjadi dua yaitu sistem saraf pusat dan
perifer. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan medulla spinalis. Sistem saraf perifer terdiri dari autonomik dan somatik sistem
(Cecile et al., 2014).
Medulla spinalis
memiliki anatomi yang khusus. Medulla spinalis memiliki beberapa fungsi. Fungsi
medulla spinalis meliputi sebagai penerus impuls sensorik, penerus impuls motorik,
dan pusat gerak refleks (Hall,1833).
Gerak refleks merupakan
gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini
dibentuk oleh sekuen neuron sensorik,interneuron, dan neuron motor, yang
mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks berjalan
sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa
memerlukan kontrol dari otak (Wulandari,2009).
Anatomi Medulla Spinalis
Medulla
spinalis terdapat di dalam canalis vertebralis sampai pada segmen lumbar 2. Di
tempat yang lebih kaudal menuju os sacrum, canalis vertebralis menjadi lebih
sempit, sehingga di daerah ini tidak lagi terisi oleh medulla spinalis, namun
terisi oleh radices nervi lumbales et nervi sacrales nervi spinales. Ujung
distalnya yang membentuk kerucut tersebut dinamakan conus medullaris. Hal
tersebut disebabkan oleh pertumbuhan medulla spinalis tidak berjalan secepat
columna vertebralis (Paulsen dan Waschke,2015).
Medulla
spinalis memiliki berbagai macam ukuran diameter sesuai letaknya di dalam
canalis vertebralis. Diameter medulla spinalis bertambah di area-area yang
mempersarafi ekstremitas. Pembesaran diameter terjadi pada dua bagian yaitu,
bagian cervical dan lumbosacral. Kedua area pembesaran ini masing-masing
dinamakan intumescentia cervicalis dan intumescentia lumbosacralis. Pada bagian
cervical, diameter medulla spinalis yang berperan mempersarafi otot lengan
memiliki diameter yang lebih besar. Pada bagian lumbosacral, medulla spinalis
yang mempersarafi ekstremitas bawah menunjukkan pembesaran diameter (Paulsen
dan Waschke,2015).
Medulla
spinalis dilapisi oleh tiga meninges. Tiga lapisan tersebut terdiri dari Dura meter
spinalis, Pia meter spinalis, dan Arachnoidea meter spinalis. Dura meter
spinalis merupakan yang terkuat dari tiga meninges dan terletak paling jauh di
luar. Pia meter spinalis adalah satu membrane yang kaya akan pembuluh darah dan
melekat erat dengan permukaan Medulla spinalis. Pia meter meluas jauh ke dalam
Fissura mediana anterior. Piameter spinalis bertransisi ke dalam Arachnoidea
meter spinalis. Ketiga lapisan tersebut melindungi dan menunjang struktur SSP
(Sistem Saraf Pusat) ini di dalam canalis vertebralis (Paulsen dan Waschke,2015).
Medulla
spinalis memiliki struktur simetris seperti cermin. Segmenta medulla spinalis
tersusun atas substantia grissea dan alba. Substantia grissea berbentuk
kupu-kupu pada potongan melintang dan dikelilingi oleh Substantia alba.
Substantia alba tersusun atas serabut neuronal dan sel glia serta terbagi
menjadi funiculi. Terdapat tiga macam funiculi, yaitu funiculus posterior,
funiculus lateral, dan funiculus anterior. Pusat struktur kupu-kupu mengandung canalis
sentralis. Canalis sentralis memiliki ujung buntu di kaudal yang berfungsi
untuk mencegah sirkulasi liquor cerebrospinalis (Paulsen dan Waschke,2015).
Sayap
kupu-kupu tersebut mewakili tiga columna yaitu,columna anterior, columna
intermedianan, dan columna posterior. Columna ini membentuk cornu anterior, cornu
lateral, dan cornu posterior (Tortora dan Derrickson,2015).
Pada
ujung masing-masing cornu, akan membentuk radiks medulla spinalis. Radiks
merupakan kumpulan dari nervus spinalis. Terdapat dua jenis radiks yaitu,
radiks posterior dan radiks anterior. Radiks anterior berfungsi untuk
mengahantarkan impuls motoric dari
otak menuju otot ekstremitas dan di daerah badan. Radiks posterior berfungsi untuk mengahntarkan impuls sensorik dari perifer ke otak (Pearce,2008).
otak menuju otot ekstremitas dan di daerah badan. Radiks posterior berfungsi untuk mengahntarkan impuls sensorik dari perifer ke otak (Pearce,2008).
Gambar 1. Anantomi makroskopik Medulla
Spinalis
Sumber : Buku Tortora,2015
Organisasi
Fungsional Medulla Spinalis
Secara
histologis, substantia grissea terbagi menjadi sejumlah lamina yang diberi
nomor I sampai X dari dorsal ke ventral. Struktur lamina mencerminkan
aspek-aspek fungsional. Laminae I-VI (Cornu posterior) mengandung neuron-neuron
relai guna penyampaian asupan sensorik eferen (informasi sensorik dari kulit, informasi
propioseptif, dan persepsi nyeri dari perifer). Transmisi ransang nyeri
mencapai serabut aferen primer lamina I, substansia gelatinosa (lamina II dan
III), dan lamina V (nucleus propius). Lamina VII (cornu laterale) mengandung
neuron-neuron guna eferen otonomik. Menurut Neurosci, (2013) mengatakan bahwa
Lamina VII dan VIII memiliki fungsi refleks, postur tubuh, dan daya penggerak. Lamina
VIII dan IX (Cornu anterior) mengandung neuron-neuron eferen bagi otot-otot (Paulsen
dan Waschke,2015).
Gerak
Refleks
Gerak refleks adalah
gerak yang dihasilakan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini
dibentuk oleh sekuen neuron sensorik,interneuron, dan neuron motor, yang
mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks berjalan
cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa
memerlukan kontrol dari otak (Wulandari,2009).
Pada gerak refleks,
impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas yaitu dimulai dari reseptor
penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf,
diterima oleh sel saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak.
Namun, langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor,
yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas tersebut dinamakan lengkung refleks (Wulandari,2009).
Gambar 2. Lengkung refleks
Sumber : Buku Sobotta,2015
Mekanisme Gerak Refleks pada
Medulla Spinalis
Medulla spinalis
mengandung sistem yang menghubungkannya dengan pusat-pusat supraspinal dan sistem
otonom setempat yang mampu mencetuskan refleks-refleks spinal tanpa perlu
asupan dari struktur-struktur neurospinal supraspinal. Refleks spinal penting
untuk menjaga tonus otot dan melindungi dari ransang-ransang berbahaya. Ransang
berbahaya tersebut contohnya adalah refleks withdrawal dari ransang yang
menyakitkan (Paulsen dan Waschke,2015).
Terdapat dua jenis
sambungan refleks spinalis atau sering disebut dengan sirkuit refleks, yaitu
refleks monosinaptik dan polisinaptik. Sirkuit refleks monosinaptik merupakan lintasan
refleks yang memiliki satu sinaps. Contoh refleks monosipnaptik adalah refleks
regang khas seperti refleks sentakan lutut dan lain sebagainya. Sedangkan,
sirkuit refleks polisinaps merupakan lintasan refleks yang memiliki lebih dari satu
sinaps. Contoh refleks polisinaps adalah refleks fleksor yang dicetuskan oleh
reseptor-reseptor kulit (Paulsen dan Waschke,2015).
Refleks fisiologis
atau refleks regang meliputi refleks biceps,brachioradialis,
triceps,pattelar,dan archilles. Refleks biceps dan brachioradialis akan
diteruskan ke medulla spinalis segmen C5 dan C6. Refleks triceps akan
diteruskan ke medulla spinalis segmen C6-C8. Refleks pattelar akan diteruskan
ke medulla spinalis segmen L2-L4. Dan Refleks Achilles akan diteruskan ke medulla
spinalis segmen L5-S2.
Refleks Fleksor di
medulla spinalis meliputi refleks abdomen,cremaster,telapak kaki, dan anal.
Refleks abdomen diteruskan ke medulla spinalis segmen T8-T12. Refleks cremaster
akan diteruskan ke medulla spinalis segmen L1 dan L2. Refleks telapak kaki akan
diteruskan ke medulla spinalis segmen S1 dan S2. Dan refleks anal akan
diteruskan ke medulla spinalis segmen S3-S5 (Paulsen dan Waschke,2015).
RINGKASAN
Medulla spinalis
terdapat di sepanjang canalis vertebralis, namun hanya sampai pada lumbar 1 dan
2. Medulla spinalis memiliki bentuk yang sama namun diameter yang berbeda di
setiap bagian canalis vertebralis. Anatomi dari medulla spinalis dibedakan
menjadi dua yaitu anatomi makroskopis dan mikroskopis.
Medulla spinalis
memiliki berbagai fungsi, salah satunya sebagai pusat gerak refleks. Gerak
refleks pada medulla spinalis terdi dari dua macam yaitu refleks regang dan
refleks fleksor. Mekanisme gerak refleks dimulai dari stimulus masuk pada cornu
posterior melewati neuron sensorik lalu diteruskan oleh interneuron kemudian
diteruskan neuron motorik melewati cornu posterior.
DAFTAR PUSTAKA
Paulsen,F.,Waschke,J.Sobotta Atlas Anatomi Manusia (23rd
ed).Jakarta:ECG.2015.
Tortora,G.J.,Derrickson,B.Principles of Anatomy and Physiology (13th
ed).USA:Wiley.2014.
Cecile,U.A.,Bitton,T.,Elena,M.D.,Tyler,M.,Mattew,B.D.Neuroanatomy,Neurophysiology,and
Dysfunction of the Female Lower Urinary Tract. Jurnal of Female Pelvic Medicine
and Reconstructive 2014;2(65-75) <http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/245662082014
diakses pada Nov.22,2016.
Hall,M.Medulla
Oblongata and Medulla Spinalis On the Refleks Function. Jurnal of Philosophical
Transaction 1833;123(635-665)
<http://rslt.royalsocietypublishing.org/content/123/635.full.pdf+html>, diakses
pada Nov.22,2016.
Neurosci,J. A
Novel Grwoth-Promoting Pathway Formed by GDNF-Overexpressing Schwan Cells
Promotes Propiospinal Axonal Regeneration, Synapse formation, and Partial
Recovery of Function after Spinal Cord Injury.Jurnal of National Institutes of
Helath 2013;33(5655-5667) <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3664932/>,
diakses pada Nov.22,2016.
Pearce,J.M.S.The
Development of Spinal Cord Anatomy.Jurnal
of Historical Riview 2008;59(286-291)
<http://content.karger.com/Article/Abstract/121417>, diakses pada
Nov.22,2016.
Wulandari,I.,P.Pembuatan
Alat Ukur Kecepatan Respon Manusia Berbasis Mikrokontroller. Jurnal Neutrio 2009;2(1-12)
<http://download.portalgaruda.org/article.php?article=116186&val=5269>,
diakses pada Nov.22,2016.



