Kamis, 08 Desember 2016

Referat Medulla Spinalis

MEDULLA SPINALIS SEBAGAI PUSAT GERAK REFLEKS








DISUSUN OLEH:
LILIA NUR RAHMAWATI SUPRAPTO
16711066
KELOMPOK TUTORIAL 13

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
NOVEMBER 2016
MEDULLA SPINALIS SEBAGAI PUSAT GERAK REFLEKS
LILIA NUR RAHMAWATI SUPRAPTO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
           
Pendahuluan
            Sistem saraf merupakan jalinan saraf yang kompleks, khusus, dan saling berhubungan satu sama lain. Sistem saraf mengontrol interaksi individu dengan lingkungannya. Sistem saraf memungkinkan manusia dapat tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam. Terdapat tiga komponen penting yang dimiliki sistem saraf yaitu reseptor, penghantar impuls, dan efektor   (Feriyawati, 2005).
            Sistem saraf berdasarkan letaknya digolongkan menjadi dua yaitu sistem saraf pusat dan perifer. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan medulla spinalis. Sistem saraf perifer terdiri dari autonomik dan somatik sistem (Cecile et al., 2014).

Medulla spinalis memiliki anatomi yang khusus. Medulla spinalis memiliki beberapa fungsi. Fungsi medulla spinalis meliputi sebagai penerus impuls sensorik, penerus impuls motorik, dan pusat gerak refleks (Hall,1833).
Gerak refleks merupakan gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensorik,interneuron, dan neuron motor, yang mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak (Wulandari,2009).
 Anatomi Medulla Spinalis
            Medulla spinalis terdapat di dalam canalis vertebralis sampai pada segmen lumbar 2. Di tempat yang lebih kaudal menuju os sacrum, canalis vertebralis menjadi lebih sempit, sehingga di daerah ini tidak lagi terisi oleh medulla spinalis, namun terisi oleh radices nervi lumbales et nervi sacrales nervi spinales. Ujung distalnya yang membentuk kerucut tersebut dinamakan conus medullaris. Hal tersebut disebabkan oleh pertumbuhan medulla spinalis tidak berjalan secepat columna vertebralis (Paulsen dan Waschke,2015).
            Medulla spinalis memiliki berbagai macam ukuran diameter sesuai letaknya di dalam canalis vertebralis. Diameter medulla spinalis bertambah di area-area yang mempersarafi ekstremitas. Pembesaran diameter terjadi pada dua bagian yaitu, bagian cervical dan lumbosacral. Kedua area pembesaran ini masing-masing dinamakan intumescentia cervicalis dan intumescentia lumbosacralis. Pada bagian cervical, diameter medulla spinalis yang berperan mempersarafi otot lengan memiliki diameter yang lebih besar. Pada bagian lumbosacral, medulla spinalis yang mempersarafi ekstremitas bawah menunjukkan pembesaran diameter (Paulsen dan Waschke,2015).
            Medulla spinalis dilapisi oleh tiga meninges. Tiga lapisan tersebut terdiri dari Dura meter spinalis, Pia meter spinalis, dan Arachnoidea meter spinalis. Dura meter spinalis merupakan yang terkuat dari tiga meninges dan terletak paling jauh di luar. Pia meter spinalis adalah satu membrane yang kaya akan pembuluh darah dan melekat erat dengan permukaan Medulla spinalis. Pia meter meluas jauh ke dalam Fissura mediana anterior. Piameter spinalis bertransisi ke dalam Arachnoidea meter spinalis. Ketiga lapisan tersebut melindungi dan menunjang struktur SSP (Sistem Saraf Pusat) ini di dalam canalis vertebralis (Paulsen dan Waschke,2015).
            Medulla spinalis memiliki struktur simetris seperti cermin. Segmenta medulla spinalis tersusun atas substantia grissea dan alba. Substantia grissea berbentuk kupu-kupu pada potongan melintang dan dikelilingi oleh Substantia alba. Substantia alba tersusun atas serabut neuronal dan sel glia serta terbagi menjadi funiculi. Terdapat tiga macam funiculi, yaitu funiculus posterior, funiculus lateral, dan funiculus anterior. Pusat struktur kupu-kupu mengandung canalis sentralis. Canalis sentralis memiliki ujung buntu di kaudal yang berfungsi untuk mencegah sirkulasi liquor cerebrospinalis (Paulsen dan Waschke,2015).
            Sayap kupu-kupu tersebut mewakili tiga columna yaitu,columna anterior, columna intermedianan, dan columna posterior. Columna ini membentuk cornu anterior, cornu lateral, dan cornu posterior (Tortora dan Derrickson,2015).
            Pada ujung masing-masing cornu, akan membentuk radiks medulla spinalis. Radiks merupakan kumpulan dari nervus spinalis. Terdapat dua jenis radiks yaitu, radiks posterior dan radiks anterior. Radiks anterior berfungsi untuk mengahantarkan impuls motoric dari
otak menuju otot ekstremitas dan di daerah badan. Radiks posterior berfungsi untuk mengahntarkan impuls sensorik dari perifer ke otak (Pearce,2008).
      Gambar 1. Anantomi makroskopik Medulla Spinalis
      Sumber : Buku Tortora,2015

Organisasi Fungsional Medulla Spinalis
            Secara histologis, substantia grissea terbagi menjadi sejumlah lamina yang diberi nomor I sampai X dari dorsal ke ventral. Struktur lamina mencerminkan aspek-aspek fungsional. Laminae I-VI (Cornu posterior) mengandung neuron-neuron relai guna penyampaian asupan sensorik eferen (informasi sensorik dari kulit, informasi propioseptif, dan persepsi nyeri dari perifer). Transmisi ransang nyeri mencapai serabut aferen primer lamina I, substansia gelatinosa (lamina II dan III), dan lamina V (nucleus propius). Lamina VII (cornu laterale) mengandung neuron-neuron guna eferen otonomik. Menurut Neurosci, (2013) mengatakan bahwa Lamina VII dan VIII memiliki fungsi refleks, postur tubuh, dan daya penggerak. Lamina VIII dan IX (Cornu anterior) mengandung neuron-neuron eferen bagi otot-otot (Paulsen dan Waschke,2015).
Gerak Refleks
Gerak refleks adalah gerak yang dihasilakan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensorik,interneuron, dan neuron motor, yang mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks berjalan cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak (Wulandari,2009).
Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh sel saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak. Namun, langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas tersebut dinamakan lengkung refleks (Wulandari,2009).

     Gambar 2. Lengkung refleks
     Sumber : Buku Sobotta,2015

Mekanisme Gerak Refleks pada Medulla Spinalis

Medulla spinalis mengandung sistem yang menghubungkannya dengan pusat-pusat supraspinal dan sistem otonom setempat yang mampu mencetuskan refleks-refleks spinal tanpa perlu asupan dari struktur-struktur neurospinal supraspinal. Refleks spinal penting untuk menjaga tonus otot dan melindungi dari ransang-ransang berbahaya. Ransang berbahaya tersebut contohnya adalah refleks withdrawal dari ransang yang menyakitkan (Paulsen dan Waschke,2015).
Terdapat dua jenis sambungan refleks spinalis atau sering disebut dengan sirkuit refleks, yaitu refleks monosinaptik dan polisinaptik. Sirkuit refleks monosinaptik merupakan lintasan refleks yang memiliki satu sinaps. Contoh refleks monosipnaptik adalah refleks regang khas seperti refleks sentakan lutut dan lain sebagainya. Sedangkan, sirkuit refleks polisinaps merupakan lintasan refleks yang memiliki lebih dari satu sinaps. Contoh refleks polisinaps adalah refleks fleksor yang dicetuskan oleh reseptor-reseptor kulit (Paulsen dan Waschke,2015).
Refleks fisiologis atau refleks regang meliputi refleks biceps,brachioradialis, triceps,pattelar,dan archilles. Refleks biceps dan brachioradialis akan diteruskan ke medulla spinalis segmen C5 dan C6. Refleks triceps akan diteruskan ke medulla spinalis segmen C6-C8. Refleks pattelar akan diteruskan ke medulla spinalis segmen L2-L4. Dan Refleks Achilles akan diteruskan ke medulla spinalis segmen L5-S2.
Refleks Fleksor di medulla spinalis meliputi refleks abdomen,cremaster,telapak kaki, dan anal. Refleks abdomen diteruskan ke medulla spinalis segmen T8-T12. Refleks cremaster akan diteruskan ke medulla spinalis segmen L1 dan L2. Refleks telapak kaki akan diteruskan ke medulla spinalis segmen S1 dan S2. Dan refleks anal akan diteruskan ke medulla spinalis segmen S3-S5 (Paulsen dan Waschke,2015).



RINGKASAN

Medulla spinalis terdapat di sepanjang canalis vertebralis, namun hanya sampai pada lumbar 1 dan 2. Medulla spinalis memiliki bentuk yang sama namun diameter yang berbeda di setiap bagian canalis vertebralis. Anatomi dari medulla spinalis dibedakan menjadi dua yaitu anatomi makroskopis dan mikroskopis.
Medulla spinalis memiliki berbagai fungsi, salah satunya sebagai pusat gerak refleks. Gerak refleks pada medulla spinalis terdi dari dua macam yaitu refleks regang dan refleks fleksor. Mekanisme gerak refleks dimulai dari stimulus masuk pada cornu posterior melewati neuron sensorik lalu diteruskan oleh interneuron kemudian diteruskan neuron motorik melewati cornu posterior.


DAFTAR PUSTAKA

Paulsen,F.,Waschke,J.Sobotta Atlas Anatomi Manusia (23rd ed).Jakarta:ECG.2015.
Tortora,G.J.,Derrickson,B.Principles of Anatomy and Physiology (13th ed).USA:Wiley.2014.
Cecile,U.A.,Bitton,T.,Elena,M.D.,Tyler,M.,Mattew,B.D.Neuroanatomy,Neurophysiology,and Dysfunction of the Female Lower Urinary Tract. Jurnal of Female Pelvic Medicine and Reconstructive 2014;2(65-75) <http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/245662082014 diakses pada Nov.22,2016.
Hall,M.Medulla Oblongata and Medulla Spinalis On the Refleks Function. Jurnal of Philosophical Transaction 1833;123(635-665) <http://rslt.royalsocietypublishing.org/content/123/635.full.pdf+html>, diakses pada Nov.22,2016.
Neurosci,J. A Novel Grwoth-Promoting Pathway Formed by GDNF-Overexpressing Schwan Cells Promotes Propiospinal Axonal Regeneration, Synapse formation, and Partial Recovery of Function after Spinal Cord Injury.Jurnal of National Institutes of Helath 2013;33(5655-5667) <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3664932/>, diakses pada Nov.22,2016.
Pearce,J.M.S.The Development of Spinal Cord Anatomy.Jurnal of Historical Riview 2008;59(286-291) <http://content.karger.com/Article/Abstract/121417>, diakses pada Nov.22,2016.
Wulandari,I.,P.Pembuatan Alat Ukur Kecepatan Respon Manusia Berbasis Mikrokontroller. Jurnal Neutrio 2009;2(1-12) <http://download.portalgaruda.org/article.php?article=116186&val=5269>, diakses pada Nov.22,2016.