Jumat, 22 April 2016

GIGI OH GIGI

“Ibuk, mengkih nak dicabut sakit mboten, Buk ?”, tanyaku yang saat itu sedang berada di ruang tunggu klinik salah satu dokter gigi. “Ora, engko kan dikei bius”, begitu jelas ibuku yang membuatku tidak takut untuk dicabut giginya. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tiba waktunya untuk gigiku hilang haha….
25 menit kemudian aku keluar dengan jumlah gigi yang hilang satu. Setelah lama menahan sakit, karena kondisi gigiku yang mengenaskan akhirnya gigi itu hilang juga. Ada perasaan senang karena sumber sakitnya sudah hilang tapi ada perasaan sedikit sedih karena aku mau ngunyah pakai apa huhu…
Itulah tadi akibatnya jikalau kita kurang menjaga apa yang telah Allah berikan kepada kita. So untuk temen-temen yang belum mengalami hal di atas, jaga gigi kita baik-baik ya dengan cara :
Gosok gigi minimal 2 kali sehari, waktunya harus tepat tuh setelah sarapan dan sebelum tidur. Hal tersebut diwajibkan untuk menjaga kebersihan mulut kita.
And then, you must check your teeth frequently. Apakah ada tuh gigi kita yang item, karena garis item tersebut menandakan adanya aktivitas gerusan di gigi. Kalau udah ada tuh item di gigi mendingan langsung cus ke dokter gigi untuk dilihat dan bagaimana penanganan selanjutnya. Biasanya sih terus ditambal deh biar gak semakin dalem gerusannya.
Selanjutnya, kalau memang gigimu itu sudah terlalu parah kondisinya seperti gigiku tadi, jangan takut untuk mencabutnya. Karena kalau barang mati bersemayam di tubuh kita itu akan jadi racun dan suatu saat gigi yang sakit itu dapat menginfeksi gigi yang lain untuk ikutan sakit.

Oke temen-temen cukup sekian berbagi pengalamanku semoga dapat bermanfaat sekaligus sebagai pengingat diriku untuk semakin rajin gosok gigi. Toh juga menjaga gigi merupakan salah satu bentuk cara mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Sekian Terimakasih…. Kayaknya lebih baik sakit hati deh daripada sakit gigi haha (karena aku ndak punya pacar haha ….)

Rabu, 20 April 2016

Entah

"Langit sore hari ini indah looh..." tulisku pada salah satu grub whatsapp kelasku dan tak lupa kutambahi dengan emoticon wajah tersenyum dengan gambar hati di kedua bola matanya. Kuamati lagi dari balik jendela mobil yang dikendarai ayahku kondisi semburat oranye yang menghamburkan kawanan gumpalan gas di semesta, kupastikan apa yang kutulis itu benar-benar nyata. Memang Tuhan tidak akan pernah tidak adil, seharian otak ini menjadi penampung ulung apa yang diajarkan guru, ditambah hati yang baru-baru ini merasa kesepian entah apa ada yang hilang tapi nampaknya tidak ada, dan entahlah, namun yang pasti kesemuanya itu tadi terbayar sudah dengan hiburan sore yang singkat namun mengena.
Tak sampai semenit mira, teman sekelasku yang selalu online, ikut mengiyakan apa yang ada dibenakku. Kubalas tanggapan itu hanya dengan emoticon sama seperti ketika kukirim kalimat pertamaku. Simple.
Pikiranku mulai kembali terpaku pada kiriman sms kemarin malam dari seseorang yang memang pernah bertepi di pinggiran hatiku-hanya dipinggiran haha tapi sampai sekarang gamon-. Sms yang memang singkat namun mampu membuatku meleleh lagi, dan bingung apa yang harus aku perbuat, sms berisikan perhatian dan saat aku balas dia tidak membalasnya lagi, bingung akan maksudnya seperti apa.
Pencarian jawabanku terhenti sementara, karena ayahku telah memarkirkan mobil di garasi samping rumah, tandanya aku untuk segera turun, mandi, sholat, dan yang paling asik adalah makan mengingat 10 menit lagi waktu yang tersisa sebelum adzan maghrib menggema.
Selesai menuntaskan hak perutku, hplah yang kemudian menjadi sasaranku. Sejenak pikiran yang masih seperti bola ruwet kupinggirkan. Teringat akan permintaan tolong salah seorang teman kelas yang bernama Robi untuk membuatkan essay mengenai "Pendidikan di Indonesia" yang merupakan tugas tambahan karena tidak mengikuti ulangan harian Bahasa Indonesia minggu ini. Aku merasa diriku sedikit berbeda dengan mau membantu mengerjakan tugas teman, mungkin karena aku hanya mencari kesibukan agar tidak galau, atau mungkin karena perasaan lain mulai muncul kepada laki-laki yang satu ini. Entahlah.